
TABANAN – Praktisi komunikasi publik dan jurnalis I Wayan Ariasa dikenal luas atas kiprahnya dalam membangun komunikasi publik, penguatan literasi media, serta pengembangan media digital di Kabupaten Tabanan. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia juga memiliki perhatian besar terhadap pelestarian adat, budaya, sastra, dan nilai-nilai Agama Hindu.
Saat ini, I Wayan Ariasa mengemban sejumlah amanah strategis, di antaranya sebagai Kelompok Ahli Bidang Komunikasi Pemerintah Kabupaten Tabanan, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Tabanan, Ketua Pokja News Room Jaga Desa Kabupaten Tabanan, Dewan Pengawas PPTI, Wakil Ketua PMI Kabupaten Tabanan, serta Pembina Pondok Sastra Kosala Padma Bali.
Dalam berbagai kesempatan, I Wayan Ariasa aktif menjadi narasumber pelatihan komunikasi publik, jurnalistik, literasi digital, pengelolaan website desa, media sosial pemerintahan, hingga publikasi berbasis Data Desa Presisi. Melalui berbagai forum tersebut, ia mendorong lahirnya sumber daya manusia yang mampu menyampaikan informasi secara akurat, edukatif, dan bertanggung jawab.
Pembina Pondok Sastra Kosala Padma Bali, Jro Dalang I Wayan Pandia, menyampaikan bahwa kiprah I Wayan Ariasa tidak hanya terbatas pada dunia komunikasi dan media.
“Beliau juga merupakan Pembina Pondok Sastra Kosala Padma Bali yang sangat aktif meliterasi masyarakat serta berbagi pengetahuan mengenai adat, budaya, sastra, filosofi, dan Agama Hindu. Komitmen tersebut menjadi bentuk pengabdian dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dipahami oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang,” ujar Jro Dalang I Wayan Pandia.
Menurutnya, sinergi antara literasi media dan literasi budaya menjadi modal penting dalam menghadapi perkembangan zaman. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan karakter, pemahaman budaya, serta nilai-nilai spiritual agar masyarakat tetap memiliki jati diri.
Melalui berbagai peran yang dijalankan kata Pandia, I Wayan Ariasa dinilai tidak pernah surut dengan komitmennya dalam memperkuat keterbukaan informasi publik, meningkatkan kualitas komunikasi pembangunan, sekaligus menjaga kelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai Agama Hindu sebagai bagian dari identitas masyarakat Bali.
















