EkonomiTabanan

EMAS DWISBAR, Inovasi Eco Enzyme SMPN 2 Selemadeg Barat: Dari Kulit Buah Menjadi Karya Kreatif Siswa

TABANAN, SUARATABANAN.ID –  Keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan kreativitas dan inovasi. Semangat itulah yang ditunjukkan SMP Negeri 2 Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, melalui inovasi bertajuk EMAS DWISBAR (Eco Enzyme Mandiri, Aktif dan Sehat SMP Negeri 2 Selemadeg Barat).
Inovasi yang dikembangkan sebagai bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang berpihak pada murid ini, tidak sekadar menghasilkan produk olahan berbahan dasar limbah organik, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk mengasah kreativitas, membangun karakter, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Kepala SMP Negeri 2 Selemadeg Barat, Ni Made Dwi Indrayanti, S.Pd., saat ditemui wartawan di sekolah setempat, Jumat (30/10/2026), mengatakan EMAS DWISBAR lahir dari keinginan sekolah untuk memberikan kesempatan kepada siswa menjadi pelaku utama dalam proses pembelajaran. “Bagi kami, yang paling berharga dari EMAS DWISBAR bukan semata-mata produk yang dihasilkan, melainkan proses belajar yang dilalui anak-anak. Kami ingin murid menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, berkreasi, dan menghadirkan solusi terhadap persoalan yang ada di sekitarnya,” ungkapnya.

Ia menegaskan, inovasi ini dirancang bukan hanya untuk murid, tetapi dikembangkan dan dikerjakan langsung oleh murid. Mulai dari menyiapkan bahan baku, mengolah kulit buah menjadi eco enzyme, hingga mengembangkan produk turunannya.

Baca Juga:  Kota Tabanan atau Kota Singasana?

Dalam proses tersebut, guru berperan sebagai pendamping yang memberikan arahan sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk bereksplorasi, mencoba hal baru, dan mengembangkan gagasan kreatif.
“Inovasi ini bukan sekadar dibuat untuk murid, tetapi dibuat dan dilakoni oleh murid sendiri. Mereka terlibat dalam prosesnya, belajar dari pengalaman, menghadapi tantangan, dan merasakan kebanggaan ketika sesuatu yang mereka kerjakan dapat menghasilkan karya yang bermanfaat,” jelasnya.

Lebih jauh, Ni Made Dwi Indrayanti berharap EMAS DWISBAR menjadi bukti bahwa keterbatasan sarana maupun lokasi sekolah yang jauh dari pusat kota bukan alasan untuk berhenti berinovasi.

Siswa Bangga Menjadi Pelaku Inovasi
Semangat EMAS DWISBAR juga dirasakan langsung oleh para siswa yang tergabung dalam Tim Inovasi. Mereka mengaku senang dan bangga karena mendapat kesempatan untuk terlibat langsung dalam menciptakan sebuah karya yang bermanfaat.

Bagi mereka, pengalaman mengolah kulit buah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah menjadi produk bernilai guna merupakan pengalaman belajar yang memberikan kebanggaan tersendiri. “Kami senang dan bangga bisa menjadi bagian dari Tim Inovasi EMAS DWISBAR. Awalnya kami tidak menyangka bahwa kulit buah yang biasanya dibuang ternyata bisa kami olah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkap salah seorang siswa.
Mereka menuturkan, keterlibatan dalam inovasi ini memberikan pengalaman baru. Tidak hanya belajar menyiapkan bahan dan membuat eco enzyme, tetapi juga mengembangkan produk turunan melalui kerja sama, kreativitas, dan keberanian mencoba.

Baca Juga:  Didampingi Suami, Dayu Winda Laporkan Akun Kep_alakeluarga ke Polres Tabanan

Guru-guru memberikan pendampingan, namun para siswa tetap diberikan ruang untuk menyampaikan ide dan mengembangkan kemampuan masing-masing.

Melalui EMAS DWISBAR, SMP Negeri 2 Selemadeg Barat kata Indrayanti menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Lingkungan sekitar dapat menjadi laboratorium pembelajaran, persoalan sampah dapat menjadi sumber inspirasi, dan siswa dapat menjadi bagian dari solusi.
“Dari kulit buah lahir inovasi, dari proses belajar tumbuh kreativitas. EMAS DWISBAR menjadi gambaran bahwa sekolah sederhana pun mampu melahirkan gagasan besar ketika murid diberikan ruang, kepercayaan, dan kesempatan untuk berkarya, pungkasnya. (ST-ARI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *