
TABANAN, SUARATABANAN.ID – Kreativitas seni, khususnya seni pertunjukan di Tabanan, belakangan ini semakin menunjukkan rohnya. Di berbagai kecamatan, euforia berkesenian di kalangan anak muda mulai bergeliat, terutama menjelang perayaan Hari Raya Nyepi. Momentum menjelang Nyepi kerap menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas seni dan budaya.
Salah satunya terlihat dalam kegiatan Parade Baleganjur “Solah Saling” yang digelar oleh Sekaa Teruna (ST) Sri Sedhana Yowana Dharma Megati Kelod, Desa Megati, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan pada Sabtu hingga Minggu, 7–8 Maret 2026.
Ketua Panitia Pelaksana, I Gede Kompyang, saat ditemui dilokasi acara, Sabtu (07/03/26), mengatakan parade baleganjur tersebut diberi nama “Solah Saling”, yang menggambarkan semangat kolaborasi dan ekspresi kreatif generasi muda dalam menyongsong datangnya bulan Kasanga.
“Parade Baleganjur ini kami beri nama Solah Saling sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk mengekspresikan ide-ide kreatif mereka melalui seni, khususnya dalam menyambut Kasanga,” ujar I Gede Kompyang.
Sementara itu, Wakil Ketua Panitia, Dewa Satria, menjelaskan bahwa Solah Saling merupakan simbol aksi kolektif dua sekaa atau kelompok seni yang saling berinteraksi dalam satu tujuan, yakni menunjukkan kreativitas seni generasi muda.
Menurutnya, parade baleganjur ini menjadi ruang bagi generasi muda, khususnya generasi Z, untuk menyalurkan energi kolektif dalam berkesenian.
“Solah Saling merupakan bentuk aksi bersama anak-anak muda untuk menampilkan ide-ide kreatif mereka dalam mengekspresikan seni menyongsong Kasanga,” jelasnya.
Kegiatan ini sendiri merupakan penyelenggaraan keempat sejak pertama kali digelar pada tahun 2021. Pada penyelenggaraan perdana, kegiatan ini diikuti oleh delapan sekaa. Tahun berikutnya jumlah peserta meningkat menjadi sembilan sekaa, dan pada tahun ini jumlah peserta melonjak menjadi 16 sekaa yang berasal dari wilayah Selemadeg Raya hingga Kerambitan.
Pelaksanaan parade berlangsung selama dua hari, dengan delapan sekaa tampil pada hari pertama, sementara sisanya kata Dewa Satria dijadwalkan tampil pada hari berikutnya.
Kompyang menambahkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya peserta masih terbatas dari Desa Megati saja. Namun pada penyelenggaraan tahun ini, partisipasi peserta semakin luas dengan keikutsertaan kelompok baleganjur dari Kecamatan Selemadeg Raya hingga Kerambitan.
“Harapan kami kegiatan ini mampu menjadi wadah bagi kreativitas anak-anak muda, tidak hanya di Desa Megati tetapi juga di Kabupaten Tabanan pada umumnya, dalam upaya pelestarian seni dan budaya,” kata Kompyang.
Harapan serupa juga disampaikan Dewa Satria yang menilai kegiatan ini dapat menjadi ruang positif bagi generasi muda untuk menuangkan ide dan kreativitas mereka melalui seni tradisional Bali.

Di tempat terpisah, Perbekel Desa Megati, Dewa Nyoman Sukerta, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap kegiatan yang diinisiasi oleh masyarakat, khususnya kalangan generasi muda tersebut.
Ia menilai kegiatan seperti Parade Baleganjur “Solah Saling” menjadi bukti bahwa semangat pelestarian seni dan budaya Bali tetap hidup di tengah masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan yang dirancang oleh masyarakat, terlebih oleh generasi muda. Ini menunjukkan bahwa seni dan budaya tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat berkesenian di kalangan generasi muda terus tumbuh sekaligus menjadi media pelestarian budaya Bali menjelang rangkaian perayaan Nyepi. (Ari)
















